Buku ini menggali perjalanan riset penulis dalam memahami pengalaman perempuan penyandang disabilitas yang hidup di kawasan rawan bencana Merapi. Melalui dialog intim, kunjungan lapangan, dan pendampingan intensif, penulis menemukan bahwa perempuan disabilitas berada pada titik kerentanan tertinggi—namun sekaligus memiliki kapasitas, pengetahuan lokal, dan determinasi yang kerap luput dari perhatian kebijakan publik. Mereka bukan sekadar penerima dampak bencana, melainkan subjek pengetahuan yang mampu memimpin perubahan ketika diberikan ruang untuk terlihat.
Temuan-temuan lapangan menegaskan betapa sentralnya data inklusi dalam pengurangan risiko bencana. Ketiadaan pendataan menyebabkan penyandang disabilitas tak tercantum dalam prioritas evakuasi, tak diikutsertakan dalam simulasi, dan tak diperhitungkan dalam perencanaan kebijakan. Melalui pengalaman komunitas PPDK dalam membangun modul serta pengelolaan data inklusi mandiri, buku ini menunjukkan bagaimana komunitas dapat mengisi kekosongan struktural yang ditinggalkan negara sekaligus menantang cara kita memaknai ketidakterlihatan sosial.
Lebih dari sekadar karya akademik, buku ini merupakan perjalanan personal penulis sebagai bagian dari keluarga dengan anggota disabilitas. Dedikasi kepada adiknya, Ivan Ufuq Isfahan—seorang penyandang disabilitas intelektual sekaligus pelukis sampul buku—menjadi fondasi empati dan perspektif kritis penulis dalam melihat disabilitas sebagai realitas relasional dan struktural. Melalui refleksi ini, buku menghadirkan narasi yang menggabungkan penelitian, pengalaman hidup, dan perjuangan keluarga, sekaligus mengajak pembaca memahami bahwa inklusi bukan hanya konsep kebijakan, tetapi praktik kemanusiaan sehari-hari.













Reviews
There are no reviews yet.