BANTEN ABAD ke-19 bukan sekadar panggung pemberontakan fisik, melainkan juga laboratorium ide tempat doa, sastra, danpengetahuan beradu serta berkelindan. Di sana, Syekh Nawawi menanam ruh antikolonial melalui teks dan tafsir; Multatulimenggugat kolonialisme dari dalam tubuh penjajah lewat roman; dan Snouck Hurgronje hadir membawa pengetahuan sebagai strategi kuasa untuk menjinakkan bara perlawanan.
Membaca ketiganya dengan imajinasi reflektif memperlihatkan bahwa kolonialisme tidak hanya dilawan dengan senjata, tetapi juga dengan kata dan doa—dan bahwa kolonialisme sendiri belajar menggunakan pengetahuan untuk bertahan, bahkan menundukkan lawan. Melalui lensa genealogi intelektual-spiritual dan wacana kritis, buku kecil ini akan melihat tegangan dan dialektika doa (Syekh Nawawi), sastra (Multatuli), dan pengetahuan-kuasa (Snouck Hurgronje) sebagai mesin penggerak kesadaran antikolonial di Banten abad ke-19, sekaligus menelusuri bias kolonial yang masih bersarang dalamhistoriografi, epistemologi, dan kesadaran kita hari ini.













Reviews
There are no reviews yet.